Las
titik atau RSW (Resistance Spot Welding)
merupakan metode pengelasan di mana tidak terdapat busur listrik yang terjadi
pada saat proses mengelas dilakukan. Kedua permukaan logam yang akan dilas
ditekan satu sama lain di antara kedua ujung elektroda kemudian dialiri arus
listrik yang tinggi. Terdapat empat (4) siklus yang terjadi ketika melakukan
metode ini, yang pertama adalah squeeze
time yaitu penekanan benda kerja oleh elektroda dan arus listrik mulai
mengalir. Siklus kedua yaitu weld time,
merupakan kondisi pada saat arus listrik sedang mengalir. Dilanjutkan dengan hold time di mana aliran arus sudah
tidak mengalir lagi, namun benda kerja masih diberi tekanan. Kemudian pada
siklus terakhir merupakan off time,
yaitu ketika sudah tidak dilakukan penekanan terhadap benda kerja dan tidak ada
arus listrik yang mengalir.
Dari percobaan, peneliti mengamati
pengaruh fisik dan mekanik dari logam baja karbon rendah SS400 dengan tebal 1,2
mm dan paduan Al5083 dengan tebal 4 mm yang disambung dengan metode las RSW
melalui tiga varian arus listrik, yaitu pada arus 65 A, 70 A, dan 75 A. Hasil
pengelasan tersebut kemudian diuji mekanik dengan dilakukan uji tarik-geser.
Sementara untuk uji fisik dilakukan pengujian kekerasan pada beban 100 grf
dengan mesin uji kekerasan Vickers.
Pengujian fisik ini dilakukan di daerah logam induk yaitu logam dasar yang
tidak mengalami perubahan struktur saat terjadi panas, HAZ (Heat Affected Zone) yaitu logam induk yang berubah strukturnya
karena panas pengelasan, dan daerah logam las yang merupakan bagian yang ikut
mencair ketika proses mengelas kemudian membeku. Dilakukan pula pengamatan
fisik lain, yaitu pengamatan fotomikro dengan menggunakan mikroskop optik dan
pengamatan fotomakro menggunakan alat stereozoom.
Setelah dilakukan pengujian dan
pengamatan seperti di atas, didapatkan hasil bahwa semakin tinggi arus
pengelasan yang digunakan maka nilai kekuatan tarik gesernya juga akan semakin
tinggi, dalam hal ini 65 A - 75 A. Pengamatan fotomakro menunjukkan bahwa hasil
las dengan semua variasi arus pengelasan dapat tersambung dengan baik.
Sedangkan pada hasil pengamatan fotomikro pada daerah las material Al 5083
masih terdapat sisa serbuk filler yang tidak meleleh saat terjadi proses
pengelasan. Untuk material baja SS 400, struktur mikro daerah logam induk dan
HAZ untuk semua variasi arus pengelasan berupa ferit dan perlit sedangkan pada
daerah las struktur mikronya berupa bainit. Kemudian nilai kekerasan tertinggi
pada material SS 400 terdapat pada daerah logam las. Hal tersebut sesuai dengan
struktur mikro pada daerah tersebut yaitu bainit yang mempunyai nilai kekerasan
tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar