Jumat, 29 Mei 2015

PENGARUH ARUS LISTRIK TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK-MEKANIK SAMBUNGAN LAS TITIK LOGAM DISSIMILAR AL-STEEL

          Las titik atau RSW (Resistance Spot Welding) merupakan metode pengelasan di mana tidak terdapat busur listrik yang terjadi pada saat proses mengelas dilakukan. Kedua permukaan logam yang akan dilas ditekan satu sama lain di antara kedua ujung elektroda kemudian dialiri arus listrik yang tinggi. Terdapat empat (4) siklus yang terjadi ketika melakukan metode ini, yang pertama adalah squeeze time yaitu penekanan benda kerja oleh elektroda dan arus listrik mulai mengalir. Siklus kedua yaitu weld time, merupakan kondisi pada saat arus listrik sedang mengalir. Dilanjutkan dengan hold time di mana aliran arus sudah tidak mengalir lagi, namun benda kerja masih diberi tekanan. Kemudian pada siklus terakhir merupakan off time, yaitu ketika sudah tidak dilakukan penekanan terhadap benda kerja dan tidak ada arus listrik yang mengalir.

            Dari percobaan, peneliti mengamati pengaruh fisik dan mekanik dari logam baja karbon rendah SS400 dengan tebal 1,2 mm dan paduan Al5083 dengan tebal 4 mm yang disambung dengan metode las RSW melalui tiga varian arus listrik, yaitu pada arus 65 A, 70 A, dan 75 A. Hasil pengelasan tersebut kemudian diuji mekanik dengan dilakukan uji tarik-geser. Sementara untuk uji fisik dilakukan pengujian kekerasan pada beban 100 grf dengan mesin uji kekerasan Vickers. Pengujian fisik ini dilakukan di daerah logam induk yaitu logam dasar yang tidak mengalami perubahan struktur saat terjadi panas, HAZ (Heat Affected Zone) yaitu logam induk yang berubah strukturnya karena panas pengelasan, dan daerah logam las yang merupakan bagian yang ikut mencair ketika proses mengelas kemudian membeku. Dilakukan pula pengamatan fisik lain, yaitu pengamatan fotomikro dengan menggunakan mikroskop optik dan pengamatan fotomakro menggunakan alat stereozoom.

            Setelah dilakukan pengujian dan pengamatan seperti di atas, didapatkan hasil bahwa semakin tinggi arus pengelasan yang digunakan maka nilai kekuatan tarik gesernya juga akan semakin tinggi, dalam hal ini 65 A - 75 A. Pengamatan fotomakro menunjukkan bahwa hasil las dengan semua variasi arus pengelasan dapat tersambung dengan baik. Sedangkan pada hasil pengamatan fotomikro pada daerah las material Al 5083 masih terdapat sisa serbuk filler yang tidak meleleh saat terjadi proses pengelasan. Untuk material baja SS 400, struktur mikro daerah logam induk dan HAZ untuk semua variasi arus pengelasan berupa ferit dan perlit sedangkan pada daerah las struktur mikronya berupa bainit. Kemudian nilai kekerasan tertinggi pada material SS 400 terdapat pada daerah logam las. Hal tersebut sesuai dengan struktur mikro pada daerah tersebut yaitu bainit yang mempunyai nilai kekerasan tinggi. 
BACA Selengkapnya